LOVE, TAEYEON PART 13

Title : Love, Taeyeon (With all the emotions he has)

Maincast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang, Marcia G. Harden,

Andrew G. Harden, Luke Harden, Robert Hudson, Harold Burke,

Felliza Brown, Ajhuma Kim Young Ae Etc.

Author : Eirene Kim

Genre : Matured, Drama

Copyright © 2017 Eirene Kim

“Hope you like my stories and can appreciate them. Please like or comment ‘Cause if you do it. It can be my vitamin and give me spirits to make a nice stories. Thankyou”

***

Tiffany sedang membeli beberapa keperluan bulanan, dia hanya pergi berdua dengan Wendy. Memilah-milah bahan masakan dan berbagai macam sayuran dan juga buah. Dengan telaten dia mencari kualitas yang terbaik. Sedangkan Wendy kecil hanya berjalan mengikuti ibu dan juga troli yang dibawa dengan menurut, sambil sesekali dia melihat kekanan dan kekiri, berharap menemukan hal-hal yang menarik.

“Mommy..” dia menarik baju ibunya.

“Ada apa, sayang?” Tiffany menolehkan kepalanya kebawah, sambil melihat putrinya.

“Aku mau es krim” menunjuk kedai es krim yang ada dipojok, dengan pembeli yang sangat ramai.

“Okey, setelah mommy menyelesaikan ini. Nanti kita kesana, ya?” Tiffany mengelus rambut Wendy dengan halus.

“Tapi aku mau sekarang, mommy!..” kembali menarik baju ibunya dengan sabar. Rasanya kepala anak kecil itu akan meledak-ledak jika tidak dituruti.

“Okey, kita pergi kesana” Tiffany menghela nafas, dia akhirnya menuruti kemauan putrinya. Wendy langsung berlari dengan terburu, dia sudah tidak sabar untuk mencicipi sebuah es krim.

“Paman! Tolong buatkan aku es krim dengan choco chips yang banyak..” setelah mengantri lama akhirnya dia bisa mencicipi es krim dikedai itu.

“Terimakasih, paman” Wendy tersenyum girang, dia telah mendapatkan es krimnya. Lalu berjalan kearah ibunya.

“Mommy… aku sudah dapat”

“Kau bisa duduk disana dulu, sayang? Mommy ingin mengambil barang yang kurang. Nanti mommy kesini lagi. Tunggu dan jangan kemana-mana, okey?” Tiffany mengarahkan Wendy untuk duduk disalah satu meja kedai es krim itu. Karena jarak barang yang dia cari cukup jauh, dia tidak ingin membuat Wendy lelah.
Wendy hanya mengangguk dan menunggu dengan senyum sumringah.

“Harusnya disini..” Tiffany sedang menjelajah diantara rak barang yang akan dia cari.

***

“Mau apalagi kau kemari, brengsek!” Taeyeon menunjuk seseorang yang sedang berdiri didepan pintu ruangannya. Dengan perasaan kesal dia menghampiri orang itu, dan menarik kerah kemeja itu dengan kuat.

“A..aku… aku hanya ingin meminta maaf, Taeyeon” dia adalah Luke, laki-laki yang telah mencumbu istrinya. Dengan tekad berani, dia datang menghampiri Taeyeon. Setelah dia berucap untuk meminta maaf, seperti biasa dia akan mendapatkan pukulan keras diwajahnya.

“Dengan kelakuan bejad mu. Kau masih berani menampilkan wajahmu dihadapan-ku, sialan!” Dia memukul wajah Luke dengan perasaan yang berkecamuk. Dia ingin membuat Luke mati ditempat, tapi disatu sisi dia memikirkan putrinya.

‘”Maafkan aku Taeyeon. Tolong maafkan aku. Setelah ini aku akan pergi dan tidak akan menampilkan wajah hina ku dihadapanmu. Biarkan aku pergi dengan perasaan bersalah yang hilang. Tolong maafkan aku!”

“Tidak akan! Cepat kau pergi dari ruanganku dan jangan menampilkan wajah sialanmu itu dihadapan keluargaku. Jika kau ingin hidup, cepat pergi!” Taeyeon kembali menarik kerah laki-laki itu dan melemparnya keluar dari ruangan. Dia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Para pegawai yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka, dibuat terkejut dengan amarah Taeyeon yang meledak-ledak.

“Penjaga, tolong bawa orang ini pergi!”

“Aku bisa pergi sendiri, jangan menyentuhku!” Luke langsung menepiskan tangan para penjaga. Dia bangkit dan berdiri, sambil menatap Taeyeon yang sedang memburu.

“Aku sudah berusaha untuk mengakui kesalahan-ku, Taeyeon. Kau membuatku malu didepan karyawanmu. Aku akan membuat perhitungan!” Sambil mengusap darah yang berada disudut bibirnya, dia mulai melangkah pergi dari kantor Taeyeon.
Setelah kepergian Luke, tidak berapa lama ponselnya berdering. Melihat lalu mengangkatnya.

“Ada apa?” Dia mengangkat telepon itu dan duduk dikursinya kembali sambil mengendurkan ikatan dasi yang sedikit membuatnya sulit bernafas.

“Bicaralah, kenapa kau menangis?” Dia mengernyitkan dahinya, bingung dengan penelpon disebrang sana yang hanya menangis dan tidak berkata apapun.

“Sumpah demi Tuhan, Tiffany. Ada apa? Jika kau hanya menelponku karna Luke pergi dari negara ini. Aku tidak mau mendengarnya, sialan! Cepat katakan ada apa?!” Dia berteriak dengan sebuah ponsel yang ditujukan pada istrinya, yang sedang terhubung.

“Wendy Menghilang…”

***

Chloe, apa kau ingin bersekolah?” Kini Tiffany dan juga Chloe sedang duduk dibangku taman belakang rumahnya. Menikmati hari senja dengan teh hijau dan juga milkshake hangat. Tiffany sengaja mengundang Chloe untuk datang kerumahnya, dengan alasan bahwa dirinya sangat bosan berada dirumah sendirian.

“Sebenarnya aku ingin. Tapi jika aku pergi bersekolah, itu tandanya aku tidak bisa mencari uang untuk makan, nyonya. Dan belum lagi, aku harus memikirkan biaya pendidikan untuk selanjutnya. Kurasa aku tidak bisa, walau sebenarnya aku ingin.” Chloe berucap dengan nada bergetar, dia sedang menggenggam milkshake nya dengan kuat. Berharap bisa mengurangi rasa sesak yang bergejolak dihatinya.

“Jika kau ingin. Kami akan siap untuk membiayaimu, Chloe.” Tiffany menarik tangan gadis muda itu, memberikan sebuah senyuman penuh harapan dan juga meyakinkan. Dia sudah menganggap Chloe seperti anaknya sendiri. Mendengar Tiffany berkata untuk membiayai pendidikannya, Chloe menjadi terharu. Pikirnya Tiffany sangat baik dan dia tidak bisa berucap apapun, kecuali ucapan terimakasih.

“Sungguh, aku tidak tahu harus berkata apa nyonya. Ucapan terimakasih-pun kupikir tidak akan cukup untuk membalas semua kebaikanmu dan juga kebaikan tuan Kim. Aku benar-benar bersyukur rasanya.” Dengan mata yang berkaca-kaca dia mengucapkan hal itu kepada Tiffany, dia benar-benar terharu. Dengan keberanian yang entah muncul dari mana, dia memberanikan diri untuk memeluk Tiffany dengan erat dan menangis dipelukan wanita bermata bulan sabit itu. Dia pikir, hidupnya sangat beruntung sekarang.

“Jangan menangis, sayang. Kau seharusnya merasa senang bukan?” Tiffany mengelus rambut Chloe dengan lembut.

“Tangisku kali ini adalah tangis bahagia, nyonya.” Dia makin mengeratkan pelukannya kepada Tiffany tanpa berniat untuk melepaskannya.

“Jika putri-ku ada. Mungkin usianya sama dengan dirimu, Chloe..” Chloe mendongakkan kepalanya, dia menghapus sisa airmata bahagianya lalu mencoba untuk mendengarkan sebuah cerita tentang anak dari Tiffany.

“Putriku bernama Wendy. Dia memiliki rambut hitam pekat seperti suamiku dan mata bulan sabit seperti milik ku.”

“Anak yang sangat periang dan juga hiperaktif sekali. Sampai membuat ajhuma dan Dae Ji kewalahan untuk mengurusnya” Tiffany tertawa renyah, dia sedang mengingat anak perempuannya yang sudah empat tahun menghilang.

“Kau pasti sangat sedih, nyonya. Apa kau sudah melaporkannya kepada pihak yang berwajib?”

“Sudah sampai saat ini. Tapi belum ada hasilnya hingga sekarang”

“Jangan berkecil hati, nyonya. Berdoa pada Tuhan, agar Wendy cepat ditemukan. Aku turut prihatin”

“Aku tidak pernah berhenti untuk berdoa, tapi doaku rasanya tidak benar-benar didengar oleh Tuhan. Apa karena dosaku terlalu banyak, hingga Tuhan enggan mengabulkan doaku untuk keselamatan putriku? Jika seperti itu, aku benar-benar tidak beruntung dan juga sangat kecewa pada diriku sendiri.”

“Kita percayakan saja semuanya kepada Tuhan, nyonya. Berharap Wendy segera ditemukan”

***

“Tuan ada yang ingin bertemu dengan Anda, sekarang” Sekertaris Taeyeon datang dan memberitahu, bahwa seseorang ingin bertemu dengannya.

“Ada keperluan apa? Ini sudah sore, jam kantor sebantar lagi akan selesai.”

“Kata beliau, dia adalah teman lama Anda, tuan.”

“Siapa? Suruh dia masuk” Taeyeon menfokuskan dirinya kepada sebuah tablet yang terpasang didepannya, sambil menunggu tamu yang katanya adalah seorang teman lama. Suara ketukan sepatu yang beradu dengan lantai yang terbuat dari marmer menggema didalam ruangan. Seseorang sedang berjalan kearahnya, namun karena dia terlalu sibuk mengecek beberapa laporan, dia sampai tidak melihat siapa tamu yang dimaksud.

“Halo, Kim Taeyeon”

***

“Tiffany!” Taeyeon berlari kearah Tiffany yang sedang menangis disebuah ruang pengamanan didalam mall.

“Tae..” dia memeluk suaminya dengan erat, dan mengeraskan tangisannya.

“Apa sudah ketemu? Bagaimana bisa anak kita hilang, Tiff. Astaga” Taeyeon melepaskan pelukan Tiffany. Dia mencoba untuk bertanya kepada istrinya.

“Aku hanya meninggalkannya sebentar dikedai es krim. Tapi setelah aku kembali dia menghilang, Tae.. Aku juga sudah melaporkannya kepada penjaga mall. Dan mereka sedang mencarinya” Tiffany masih menangis sesenggukan, dia benar-benar merasa sangat tidak becus untuk menjadi seorang ibu.

“Kau benar-benar ibu yang sangat ceroboh! Kau tidak becus mengurus seorang anak. Astaga, dia anak kita satu-satunya, dan kau sangat tidak perduli, Tiffany! Kenapa kau hanya memikirkan dirimu sendiri!” Taeyeon mengguncang tubuh istrinya dengan gemas. Permasalah semakin rumit. Dimulai dari perselingkuhan istrinya dengan adik sepupunya yang sialan. Dan ditambah lagi, anaknya menghilang. Seakan Tuhan sedang menguji rumah tangganya secara bertubi-tubi. Dia menggerang dengan frustasi, lalu mengambil ponselnya dan menghubungi polisi dan juga Hyun-Sik.

“Aku benar-benar muak denganmu, Tiff.” Taeyeon berlalu pergi dari hadapan Tiffany dan berjalan jauh untuk menerima sebuah telepon. Tiffany kembali menangis sambil menggigit bibirnya, suaminya memang benar. Dia tidak becus mengurus anak.

***

“Jessica?” Taeyeon terperangah dengan sosok tamunya kali ini. Kejutan yang sangat luar biasa, dia bangkit dari kursinya dan menghampiri seorang wanita yang katanya teman lama.

“Hai, apa kabar, Tae.” Wanita bernama Jessica tersenyum manis kepada sosok Taeyeon. Dia menghampiri Taeyeon dan memeluknya dengan erat.

“Aku merindukanmu, Tae” dia sangat erat memeluk Taeyeon, dan tubuhnya bergetar, apa wanita itu menangis?
Taeyeon hanya menerima pelukan itu dan mengusap punggung Jessica dengan lembut.

“Kabarku baik, Jess.. ” hanya itu yang bisa dia ucapkan kepada wanita ini.
Jessica lalu mendongakkan kepalanya, dan memukul dada Taeyeon. Dia menjadi cemberut dengan respon yang diberikan oleh Taeyeon.

“Kau jahat, lama tidak bertemu tetapi hanya itu yang bisa kau ucapkan. Apa kau benar-benar sudah melupakan aku, Tae?”

“Eung.. anu.. umm aku hanya sangat terkejut melihatmu datang ke negara ini, Jessie. Sebelumnya kau berucap untuk tidak lagi menginjakkan kaki dinegara ini. Apa pria Kanada yang kau idam-kan pergi meninggalkanmu, dan akhirnya kau kembali kesini? Kupikir aku sedang bermimpi sekarang.”

“Dia sudah mati, Tae.. jangan mengingatkan aku dengan dia”

“Oh iya, ‘kah?”

“Sudahlah, kau tidak ingin menyambutku?”

“Kau ingin sambutan yang seperti apa?”

“Temani aku minum, tapi kau yang traktir”

“Ugh! Padahal kau baru saja menemuiku, tetapi sudah mencoba untuk memerasku.” Taeyeon terkekeh geli.

“Kau tidak ingin? Dasar pelit”

“Aku hanya bercanda, sebentar aku merapihkan barang-barangku dulu. Setelah itu kita berangkat”

***

“Apa kau menyukai es krimnya?” Seseorang berucap kepada bocah yang baru berusia lima tahun kurang. Dia sedang menyetir dan membawa anak itu pergi.

“Um.. aku sangat menyukainya, tapi.. kupikir mommy akan mencariku nanti. Paman bisa kita kembali ke mall, sekarang?”

“Iya kita akan kembali, nanti. Tapi apa sebaiknya kita ke arena bermain dulu, bagaimana? Apa kau menyukai Roller Coster? Atau bianglala? Atau kau suka dengan candy? Aku akan mentraktirmu sampai puas. Baru setelah itu kita kembali ke mommy-mu. Aku sudah menelpon mommy-mu, dan meminta izin untuk membawamu pergi bermain. Jadi kau tidak usah cemas”

“Benar, ‘kah?” Setelah anak itu memakan es krim dengan rasa cokelat, kesadarannya tiba-tiba menghilang, dan perlahan ia tertidur dengan nyenyak.
Pria yang membawa anak itu hanya memberikan sebuah senyum yang sulit diartikan, dan terus melajukan mobilnya dengan cepat.

To Be Continued

91 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Bagikan:

Tinggalkan sebuah komentar