MY DARLING (ONESHOT)

MY DARLING ( SAYANG-KU )

Oleh: (Eirene Kim)

Copyright © September 2017 by (Eirene Kim)

Penerbit

(eirenekimackerman.wordpress.com)

(wattpad.com/tncpro)

(Godactor.xyz/club)

(tnc.eirene@gmail.com)

Desain sampul:

(Picture by Google)

Diterbitkan melalui:

www.wordpress.com

Wattpad

***

“Aku tidak bisa melakukannya, sungguh”

“Please.. demi diriku, sayang

“Tapi itu akan menyakitimu, sayang. Aku tidak ingin”

“Aku akan lebih sakit, jika kau tidak melakukan itu untuk-ku sayang.”

***

“Aku bersedia menjadi pendamping hidup untuk suami-ku dan menjadi isteri yang baik untuk suami-ku. Bersedia sehidup semati dengannya.”

“Bagaimana, calon suami. Apa kau bersedia menikah dengan calon isteri yang ada samping-mu?”

“…”

Bagaimana?

“A-aku, bersedia”

Bagaimana para saksi?

Pernikahan digelar disebuah gereja dan disaksikan oleh Tuhan dan juga para saudara-saudari yang hadir untuk memberikan restu. Semuanya menyaksikan dengan penuh airmata kebahagiaan, tak terlebih lagi oleh seorang wanita yang amat cantik. Ia sedang memandangi suaminya, yang telah bersanding dengan wanita lain.
Dengan penuh perasaan yang menusuknya teramat dalam. Dia telah merelakan suaminya untuk bersanding dengan wanita lain.
Ini ketidak-beruntungan, pikirnya.

Dia berjalan keluar dari gereja, mencari tempat untuk melegakan perasaannya yang sungguh teramat sesak. Bahkan Tuhan sedang menertawai ketidak-beruntungannya sebagai seorang isteri yang tak berguna.
Dosa apa yang telah ia perbuat terhadap Tuhan. Bahkan dengan teganya dia menguji dirinya seperti ini.

Beribu-ribu kali dia memikirkan hal ini. Dan beribu-ribu kali pula dia menitihkan airmata karena hal ini.
Mencoba ikhlas dengan memberikan suaminya kepada wanita lain. Mencoba membuat suaminya bahagia dengan wanita lain. Tapi layaknya wanita rapuh, dia hanya menangis dalam diam. Dia harus senang dihadapan suami dan ibu mertuanya.
Ini adalah keputusan yang telah ia berikan, maka ia harus menerima konsekuensinya.

Dimalam hari, dia dan suami beserta isteri suaminya yang lain memasuki rumah. Dia menyuruh suaminya untuk tinggal dirumah ini bersama-sama. Lagi-lagi ini adalah konsekuensi yang harus dia terima.
Hidup sebagai wanita yang tidak bisa menghasilkan keturunan sangat menyiksa batinnya. Benar-benar tidak berguna didalam sebuah keluarga. Dia kembali menangis didalam kamar yang luas, sementara suaminya sedang memadu asmara dengan istrinya yang lain dikamar sebelah. Dia berharap telinganya tuli malam ini. Tiba-tiba dia merindukan ibunya yang telah bahagia bersama Tuhan diatas sana. Oh, andai ibu masih ada. Aku akan terus memeluknya sampai tertidur.
Merebahkan dirinya, dan meringkuk. Berharap hari ini akan berlalu.

***

“Selamat pagi,” seorang wanita berjalan lunglai, dengan wajah sembab habis bangun tidur. Dia ambil bagian dimeja makan sebelum mengecup bibir suaminya.
Di lain tempat, seseorang hanya memalingkan wajahnya kearah lain. Ia sibuk menata meja makan dari beberapa lauk yang telah tersedia.

“Pagi, kak Tiffany. Apa tidurmu nyenyak semalam?” Dia mengambil piring lalu, menaruh nasi beserta lauk untuk suaminya.

“Pagi juga, tidurku sangat nyenyak semalam, Angela” Tiffany kembali duduk dikursinya dan mulai mengambil makan untuk dirinya sendiri.
Angela, istri Taeyeon hanya menganggukan kepalanya paham. Wanita itu lebih muda dari Tiffany, memiliki tubuh dengan kurva yang sangat bagus dan Taeyeon pastinya sangat menyukai hal itu. Ia melihat Angela hanya menghabiskan segelas susu dan bangkit dari kursinya. Tiffany mendongakkan kepalanya ketika melihat Angela bersiap akan pergi.

“Kau mau kemana, Angela. Bahkan kau belum menyelesaikan sarapan-mu”

“Aku ingin pergi mandi. Semalam Taeyeon menerkam-ku seperti macan buas” Angela berlalu, dan membuat Tiffany sangat terenyuh mendengarkan penuturan dari wanita itu yang secara terang-terangan membicarakan hal yang sangat super sensitif ditelinganya.
Dia menelan ludahnya dengan susah payah, seperti sesuatu ada yang menyumbat tenggorokannya. Matanya sudah pasti berkaca-kaca sekarang, dia hanya pura-pura tuli dan menundukkan kepalanya sambil melanjutkan makannya. Taeyeon, suaminya hanya memandangi dirinya dengan wajah sendu.

“Kau yang menyuruhku, Tiff. Inilah yang akan kau dapatkan” Taeyeon ikut bangkit dari kursinya dan berlalu dari Tiffany. Meninggalkan dirinya yang kembali menitihkan airmata.

“Hati-hati dijalan sayang,” dia hanya memandangi suaminya dari jauh. Seharusnya itu tugasnya, merapihkan penampilan suaminya adalah tugasnya. Tapi kini telah ada wanita yang menggantikan tugasnya.
Ia berjalan ke halaman belakang, menghibur diri dengan menyiram tanaman bunga mawar kesayangannya. Mungkin perasaannya yang jengkel bisa hilang bersama air yang keluar dari kran.

“Apa yang sedang kau lakukan, kak?” Angela bergabung dengan Tiffany. Ia hanya melihat apa yang tengah Tiffany lakukan. Duduk dibangku santai sambil membuka acak halaman dari sebuah majalah.

“Aku menyiram tanaman. Apa kamu tidak melihatnya?”

Ugh. Nada bicara-mu sangat- sarkasme,”

“Bukan urusanmu, Angela” Tiffany bersiap ingin meninggalkan Angela yang sedang memberikan secarik senyum kesombongan terhadap dirinya. Entahlah, rasanya ia ingin meremas wajah menyebalkan milik Angela.

“Kau terlihat menyedihkan, kak. Kau hidup bergelimang harta dari suami-ku. Tapi penampilan-mu sungguh sangat terlihat tua,” Angela mengalihkan pandangannya dari Tiffany ke majalah yang sedang ia baca.

“Taeyeon, suami-ku juga!” Tiffany mengepalkan tanganya dengan sangat kuat. Merasa muak dan sakit secara bersamaan, ini pilihan yang salah. Pilihan untuk tinggal bersama madunya sendiri adalah hal yang sangat salah.

“Sekarang, Taeyeon masih menjadi suami-mu. Tapi lihatlah nanti. Laki-laki itu telah menaruh benih didalam rahim-ku, kak. Ketika aku hamil, aku rasa Taeyeon akan meninggalkan dirimu” Angela bangkit dan berbicara dihadapan Tiffany. Terlihat jelas airmuka Tiffany sangat merah. Menahan tangis dan juga kesal itu dalam diam. Kini Angela yang pergi meninggalkan Tiffany sendiri, bersama dengan rasa puas.
Oh, lihatlah wanita itu sangat rapuh seperti butiran debu yang lenyap terbawa angin.

***

Setahun telah berlalu dengan kisah yang bercampur aduk. Angela sangat menyebalkan untuk dirinya, dia selalu menyuruh Tiffany ini dan itu dihadapan Taeyeon. Sering membuatnya menangis karena merasa tertindas dirumahnya sendiri.
Lihatkah kau Tuhan? Dia sangat sakit.
Taeyeon benar-benar tidak meliriknya lagi, semenjak Angela hamil. Taeyeon tidak pernah menyapa kamarnya, dia sangat cemburu dengan hal itu.

“Kakak.. tolong bantu aku” iblis itu tengah berjalan tertatih dengan perut buncitnya.
Tiffany dengan sifat penurutnya, membantu Angela yang akan menuju sofa. Kaki wanita itu membengkak, dokter bilang itu hal yang wajar untuk seorang wanita hamil. Tiffany dengan sangat telaten memijit punggung Angela.

“Kau seharusnya tidak terlalu sering banyak berjalan. Bagaimana jika nanti kau terjatuh saat aku tidak ada, Angela. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan bayi-mu” Tiffany selalu memberikan nasihat kepada Angela. Meski jengkel, dia juga tidak ingin sesuatu terjadi pada wanita itu. Angela, sedang mengandung bayi yang di-idam-idamkan oleh Taeyeon dikeluarga ini.

“Aku merasa bosan didalam kamar terus, kak” Angela meringis, ketika Tiffany menekan punggungnya dengan tidak sengaja. “Tolong berikan susu itu kak..” Dia menyuruh Tiffany untuk mengambil susu kehamilan miliknya yang sudah tersedia dimeja.

“Kau bisa menonton sesuatu dikamar, Angela. Aku benar-benar khawatir melihatmu”

“Kau sangat berisik, kak. Lebih baik aku kembali kekamar” Angela bangkit, dan dia menolak Tiffany untuk membantunya. Sambil memegang pinggangnya yang nyeri,  Angela berjalan dengan pelan dan penuh hati-hati.
Namun baru beberapa langkah terdengar ada sesuatu yang terjatuh. Tiffany menoleh kebelakang dan terbelalak ketika melihat Angela yang sudah jatuh terduduk. Ia dengan sigap berlari kearah Angela, dan terlihat sangat shock ketika sesuatu keluar dari kewanitaan wanita itu. Astaga ketuban wanita itu pecah. Buru-buru dia memanggil ambulans dengan panik.

***

“Apa yang kau perbuat Tiff? Apa kau sengaja menyiram air dilantai? Kau ini bodoh atau apa?!” Taeyeon sedang berjalan mondar-mandir diruang Unit gawat darurat. Ia merasa khawatir dengan keadaan isterinya yang sedang berjuang melahirkan bayinya.

“Aku tidak tahu, Tae. Aku sudah berusaha menjaganya” Tiffany sedari tadi menangis, ia benar-benar akan membenci dirinya sendiri, jika sesuatu terjadi pada bayi itu.
Mereka semua berdoa untuk kesalamatan ibu dan juga bayinya.
Salah seorang perawat keluar dan memanggil Taeyeon untuk masuk kedalam. Tiffany berharap jika dirinya juga bisa ikut masuk kedalam,  tapi perawat tidak mengijinkannya. Angela hanya ingin Taeyeon yang menemani persalinannya.

Hampir tiga jam, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa bayi itu telah lahir. Tiffany kembali menggigit bibirnya dengan cemas. Apa yang sedang terjadi didalam sana, Tuhan bantu dia untuk menjawab keresahan dalam dirinya.
Lampu sudah berganti berwarna hijau. Itu tandanya operasi persalinannya telah selesai. Tiffany bangkit dan berharap akan mendapatkan kabar baik.

Dokter serta timnya keluar dengan wajah lelah. Tiffany bertanya kesalah-satu perawat, apakah dirinya boleh melihat keadaan Angela didalam. Perawat itu mengangguk dan melanjutkan jalannya.

Tiffany masuk dengan perasaan gugup. Anak Taeyeon dan Angela berwajah seperti siapa? Apakah mengambil banyak dari ayahnya atau ibunya? Dia menghampiri Taeyeon yang sedang menunduk, tubuh prianya tengah terguncang. Ada apakah?

“Hai, kak Tiffany” Angela menampilkan senyum lelah dihadapan Tiffany. Wanita itu benar-benar terlihat sangat lemah dengan hidung tersumbat oleh oksigen. Dia menghampiri Angela, dan duduk disamping wanita itu.

“Bagaimana rasanya melahirkan, Angela?”

“Rasanya seperti, malaikat akan mencabut nyawamu, kak.” Angela tertawa renyah, disaat seperti ini wanita itu malah berbicara omong kosong.

“Dimana bayinya Angela? Aku ingin melihatnya” Tiffany tersenyum penuh kehangatan. Saat Tiffany membicarakan dimana bayinya, Taeyeon menggerakan tubuhnya. Laki-laki itu tengah menangis. Tiffany merasa gugup, apa sesuatu terjadi pada bayi itu?

“Katakan pada-ku, dimana bayinya?” Tiffany mengguncang tubuh Taeyeon yang hanya terus menangis. Tiffany ikut menangis, pasti ada sesuatu yang sedang mereka tutupi dari dirinya.
“Kumohon, beritahu aku. Apa bayinya selamat?” Tiffany menangis, jika benar sesuatu terjadi pada bayi itu. Maka ia akan bersumpah untuk tidak memaafkan dirinya sendiri.
Angela menarik tangan Tiffany untuk dia genggam. Wanita itu berusaha mengatakan sesuatu.

“Kak..”

“..bicaralah, Angela” Tiffany dengan sabar menunggu setiap kata yang terucap dari bibir wanita itu.

“Apakah.. apakah kau mau berjanji kepada-ku?” Angela berucap dengan nafas tersendat.

“Ya aku mau, Angela. Aku akan mencoba untuk menepati janji itu. Apa yang ingin kau katakan?” Tiffany dengan sesenggukan berucap kepada Angela. Ia sudah menghilangkan rasa jengkel terhadap wanita itu.

“Besarkan anak-ku dengan baik, kak..” Tiffany mengangguk dengan semangat. Tentu, dia akan membesarkan anak itu bersama dengan Taeyon dan juga Angela.

“Besarkan anak-ku, dan beri anak-ku kasih sayang yang kau miliki. Kurasa kau bisa menjaganya untuk-ku?”

“Tentu, Angela. Aku akan memberikan kasih sayang-ku untuk anak-mu. Dia akan kita besarkan bersama-sama. Bertiga dengan suami kita”

“Aku tidak bisa melihatnya tumbuh besar, kak.”

“Apa yang kau katakan?”

“Aku titip, Angelo kepada-mu. Dan aku mengembalikan hati suami-mu untuk dirimu kembali. Karena sejatinya, hatinya hanya milik-mu,”

“Aku tidak mengerti, Taeyeon coba jelaskan kepada-ku,”
Tidak ada jawaban, melainkan hanya suara isak tangis yang keluar dari mulut Taeyeon. Dia tidak paham, apa yang telah terjadi sebenarnya.

“Jaga anak-ku kak. Aku titip dia kepada-mu.”

“Suami-ku, Taeyeon. Hiduplah bahagia dengan Isterimu, besarkan anak kita dengan sungguh-sungguh. Aku akan merasa lega jika kau mengatakan sesuatu. Berhentilah menangis, singa cengeng. Aku tidak memiliki suami yang mudah menangis,” Taeyeon hanya mengangguk, dia tidak kuasa mendengar suara Angela yang kian memelan. Tanganya terulur untuk mengusap wajah isterinya, memberikan kecupan hangat sebelum ajal menjemputnya. Suara dari monitor terdengar nyaring.
Hari ini tanggal 11 september pukul 22:30 Angela menghembuskan nafas terakhirnya. Tepat saat itu, bayinya menangis. Mungkin juga merasakan kehilangan seorang ibu. Mereka menangis bersamaan.

“Angela.. aku akan merawat anak-mu dengan baik.”

End

2,031 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Bagikan:

Tinggalkan sebuah komentar