Phobia Bab 1

Title : Phobia

Maincast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang, Choi Daniel as Park Dong Yul,

Cha Hwa Yeon as Tiffany mother, Moonbyul, Solar. Etc

Author : Eirene Kim

Genre : Drama, Psychological, Misteri

Poster by: @Alkindi & Story Poster Zone

Copyright © 2017 Eirene Kim

Penerbit

(eirenekimackerman.wordpress.com)

(wattpad.com/tncpro)

***

Bayangkan Anda sedang berjalan kaki disebuah jalan yang dipenuhi beberapa sampah plastik dan kotoran lainnya; Seperti kotoran kucing maupun anjing misalnya. Dan sepatu Anda tidak sengaja menginjak salah satu kotoran itu.

Seorang wanita sedang mengarahkan seseorang dengan menggunakan sebuah virtual yang didesain khusus untuk mereka yang memiliki beberapa gangguan didalam jiwanya. Wanita itu  dengan telaten melatih mereka,  yang merasa terkekang oleh ketakutan yang dibuat oleh diri mereka sendiri. Dengan maksud untuk melindungi diri dari kejadian masalalu yang tidak ingin mereka ingat, justeru malah membuat pelindung itu berbalik kearah mereka sendiri.

Ingatan merupakan suatu proses biologi, yakni informasi diberi kode dan dipanggil kembali. Pada dasarnya ingatan adalah sesuatu yang membentuk jati diri manusia dan membedakan manusia dari mahluk hidup lainnya. Ingatan memberi manusia kemampuan mengingat masa lalu, dan perkiraan pada masa depan. Ingatan merupakan kumpulan reaksi elektrokimia yang rumit yang diaktifkan melalui beragam saluran indrawi dan disimpan dalam jaringan syaraf yang sangat rumit dan unik di seluruh bagian otak. Ingatan yang sifatnya dinamis ini terus berubah dan berkembang sejalan dengan bertambahnya informasi yang disimpan.

Kim Taeyeon adalah seorang ahli psikologi yang baru terjun dikasus sesungguhnya. Dan ini kali pertama dia mencoba untuk menguji kemampuannya selama menempuh dunia pendidikan dijalur psikologi.
Semua yang telah dia pelajari, dituangkan langsung kedalam kasus beberapa pasiennya. Dan hari ini dia sedang membuka terapi dengan beberapa orang yang memiliki gangguan obsesif kompulsif.

Gangguan obsesif kompulsif atau yang lebih dikenal dengan singkatan OCD (Obsessive Compulsive Disorder) adalah kelainan psikologis yang menyebabkan seseorang memiliki pikiran obsesif dan perilaku yang bersifat kompulsif. Gangguan ini merupakan penyakit jangka panjang seperti halnya tekanan darah tinggi maupun diabetes.
Kelainan ini ditandai dengan pikiran dan ketakutan tidak masuk akal (obsesi) yang dapat menyebabkan perilaku repetitif (kompulsi). Misalnya, orang yang merasa harus memeriksa pintu dan jendela lebih dari 3 kali sebelum keluar rumah. (Cr. Alodokter)

Jumlah pasti penderita OCD sulit diketahui karena para penderita umumnya enggan ke dokter. Tetapi Anda tidak perlu malu dan menutupinya jika mengalami OCD karena langkah-langkah terapi yang tepat terbukti efektif untuk menanganinya.

Dan disinilah Taeyeon sedang bergelung dengan para pasiennya yang sedang berusaha membersihkan sebuah kotoran berbentuk virtual dengan perasaan cemas. Pasalnya, pasien yang satu ini terlalu terobsesi untuk menjadi orang yang super bersih dan juga sehat. Waktu diawal pertemuan pertama mereka, saat Taeyeon mencoba untuk mengarahkan tuan Kang Jae Hyun untuk memunguti sebuah sampah tissue yang sengaja dia tuang diatas meja kerja untuk dibersihkah oleh tuan Kang Jae Hyun.
Bukannya dibersihkan, justeru tuan Kang malah lari ketakutan. Obsesinya yang ingin menjadi bersih membuat tuan Kang Jae Hyun harus repot-repot mandi setiap pagi, kurang lebih sepuluh kali. Isterinya merasa cemas dengan tingkah suaminya yang kian hari bertambah parah. Bahkan tuan Kang Jae Hyun tidak ingin memakan masakan yang dibuat atau disentuh oleh keluarganya sendiri. Dia takut, apabila ada sesuatu yang tercampur dimasakan itu. Isterinya sudah sangat frustasi dan berharap Taeyeon bisa menyembuhkan suaminya dan bisa kembali menjadi suami yang normal seperti sebelumnya.
Menjadi seseorang yang bisa menjaga kebersihan adalah bagus. Tapi jika itu malah membuatmu repot, lebih baik segera konsultasi kepada pihak yang memahami kondisimu. Jangan sampai kamu dihantui oleh perasaan cemas dan terobsesi dengan sesuatu. Itu sangat meresahkan.

Sialan kau, bocah! Sudah aku bilang, aku tidak bisa memegang ini! Jangan memaksaku!” tuan Kang berbicara keras, sambil membuang sebuah virtual yang tadinya tertempel dimatanya. Dia mengamuk lantaran ketidaksukaannya terhadap sampah. Nafasnya kian memburu, dan dia merasakan sekujur tubuhnya seperti dihantui rasa gatal. Dia merasa gemetar. (Inilah, yang akan kalian rasakan apabila mengalami suatu obsesi, khususnya pecinta bersih).
Tuan Kang dengan segera mengambil satu botol cairan anti septik lalu menuangnya ditelapak tangan, dan membalurkannya kesekujur tubuh.
Penggunaan cairan anti septik-pun sebenarnya tidak dianjurkan untuk memakainya secara berlebihan. Tapi yang dilakukan oleh tuan Kang adalah diluar batas kewajaran.

Melihat suaminya yang mulai tidak baik, nyonya Kang mengambil tindakan. Dia tidak ingin tingkah suaminya malah mengacau ditempat umum. Dia berbicara kepada Taeyeon dengan sungkan. Pasalnya suaminya kerap kali bersumpah serapah dihadapan Taeyeon. Dan itu membuat nyonya Kang merasa malu dan tidak enak hati terhadap dokter muda yang satu ini.

Maafkan suami saya, dokter Kim. Besok lusa kami akan datang kembali.” ucap nyonya Kang dengan membungkuk hormat sebelum pamit.
Taeyeon menghembuskan nafas lelah, setelah kepergian tuan Kang dan isterinya.
Ini sudah pasien ke lima, dan dia hanya mendapatkan cacian sumpah serapah dari para pasiennya. Menghadapi orang-orang yang memiliki beberapa gangguan pikiran,  lebih menyeramkan dari pada badut yang ada di film keluaran terbaru berjudul IT.
Dia melirik jam tangannya, lalu bangkit berdiri dan pergi dari ruang periksa. Perutnya merasa lapar sekarang.

***

“Hai, sis! Aku disini!” Seorang wanita melambaikan tangannya kepada sosok wanita lain yang baru saja datang ketempat makan yang berada didekat sebuah rumah sakit ternama di Seoul.

“Kau ingin pesan apa?”

“Pasta dan juga lemonade saja. Aku butuh sesuatu yang segar untuk menyegarkan kepalaku” menyenderkan tubuhnya dikursi dan mulai membuang nafas lelah.

“Apa pekerjaan hari ini begitu melelahkan?” Wanita berambut silver berucap sambil menyesap coffee latte yang sudah dipesannya beberapa menit lalu. Mereka bekerja disatu rumah sakit yang sama, hanya saja mereka beda profesi. Jika Taeyeon ahli kejiwaan, kalau yang satu ini ahli gigi.

“Si maniak bersih kembali bersumpah serapah diwajahku. Sumpah demi Tuhan, aku hanya ingin membantunya agar bisa terlepas dari kebiasaan anehnya itu. Tapi yang ada malah aku kena damprat. Pekerjaan seperti ini memang harus memiliki kesabaran yang besar.”

“Bukan hanya pekerjaanmu saja yang perlu kesabaran. Pekerjaanku-pun sama. Tadi anak dari nyonya Cho datang, dan dia dengan keras kepala ingin diperiksa giginya.  Heck, dia datang keruangan-ku hampir setiap hari, padahal giginya baik-baik saja.”
Taeyeon tertawa renyah, rekannya selalu menggerutu tentang seorang gadis yang setiap hari selalu datang keruanganya dengan keperluan yang sangat tidak penting. Itu sangat lucu, karna rekannya tidak bisa berbuat apa-apa.

“Kurasa kau harus menerima gadis itu, Moonbyul. Dia sangat gencar untuk mendekati dirimu. Jujur saja padahal kau jelek, kenapa dia menyukai-mu?” Taeyeon mendapatkan pukulan dikepalanya. Moonbyul memukulnya setelah Taeyeon mengatakan dirinya jelek.

Augh! Kenapa kau memukul kepalaku?” Taeyeon mengusap kepalanya yang sakit.

“Jika aku jelek, mungkin sepupu-mu tidak ingin aku godai setiap hari” Moonbyul bersedekap didepan Taeyeon, dia dengan sombong membanggakan dirinya.

“Narsis! Jangan sering mengganggu adik-ku, tahun ini dia harus fokus dan menyelesaikan tugas akhirnya”

“Solar sebentar lagi akan menjadi seorang pengacara. Ah, pasti aku bakal jarang bertemu dengannya”

“Kau bisa bertemu dengannya, jika kau memiliki sebuah kasus. Dan adik-ku bisa menjadi pengacara untukmu. Moonbyuli.”

Pardon me? Kau menginginkan aku masuk kedalam penjara?”

“Umm. Itu bisa membuat dirimu bertemu dengan adik-ku sepanjang waktu”

“Kau ini bodoh atau apa sih? Sudah ku katakan berapa kali untuk berhenti mengkonsumsi penyedap rasa secara berlebihan, astaga. Kau benar-benar seperti idiot, man

“Aku idiot, tapi digemari oleh banyak orang”

See?! Sekarang malah kau yang terlihat sangat narsis”

***

Apa hari ini dia mau keluar dari kamar?” Seorang pria berbicara kepada seorang wanita paruh baya. Memiliki tubuh proposional dan tinggi bagaikan dewa yunani, yang mana banyak wanita yang mengharapkan dia menjadi suaminya. Dia adalah seorang penerus dari perusahaan Park Corporation.

“Belum, dia masih ingin dikamar.” wanita paruh baya hanya menjawab pelan, sambil bersedekap disebuah pintu kamar anak perempuannya.

“Ini sudah setahun lebih. Apa dia tidak bosan berada dikamar?”

“Aku juga bingung, nak Dong-yul. Aku dan suamiku sudah berusaha membujuk dia agar mau keluar. Tapi yang kami dapatkan hanya raungan penuh ketakutan. Kami bingung. Ayahnya-pun sudah tua, dan harus ada penerus yang melanjutkan perusahaan.”

“Apa kau sudah berkonsultasi kepada psikiater?” Park Dong Yul berucap kepada wanita paruh baya, atau biasa dipanggil dengan nyonya Hwang.
Mendengar pertanyaan dari Dong Yul, nyonya Hwang hanya mengernyitkan dahinya, lalu berucap.

“Anak-ku tidak mengalami gangguan apapun, nak Dong Yul. Kenapa harus ke psikiater?”

“Tapi ini sudah hampir setahun. Tiffany tidak keluar dari kamarnya sedikit-pun. Apa kau tidak berpikir anak-mu mengalami sesuatu? Kau tahu sebentar lagi perusahaan ayah-ku akan berpindah tangan jika aku belum menikah. Dan kita sekeluarga sepakat bahwa perjodohan ini akan segera dilaksanakan, nyonya Hwang” Park Dong Yul berbicara penuh penekanan, dia sangat ambisius untuk meraih sesuatu. Tidak peduli dia adalah oranglain ataupun saudara, karna dia hanya akan memikirkan dirinya sendiri.

“Tiffany tidak perlu  berkonsultasi kepada seorang psikiater. Anak-ku baik-baik saja. Malam ini akan kubujuk dia untuk keluar, bawa keluarga Park untuk bertemu kami. Karna pertunangan memang harus dilaksanakan.”

“Kau bisa pegang ucapanmu, nyonya Hwang? Aku tidak ingin sesuatu terjadi ketika kami datang. Kau harus bisa membujuk anakmu”

“Baik. Akan kubujuk Tiffany nanti malam”

Setelah kepergian laki-laki bernama Park Dong-Yul, nyonya Hwang kembali mengetuk pintu kamar anak perempuannya.

“Tiffany… buka pintunya, nak. Umma mau masuk” tidak ada jawaban dari dalam, nyonya Hwang benar-benar frustasi. Dia memanggil pembantu laki-laki, dan menyuruhnya untuk mendobrak paksa pintu anak perempuannya. Ketika pintu terbuka, mata nyonya Hwang terbelalak kaget. Dia menemukan anak perempuannya pingsan didekat kamar mandi. Buru-buru dia menghampiri anaknya.

“Tiffany! Ya Tuhan..”

***

Mereka kembali kerumah sakit setelah menghabiskan jam istirahat ditempat makan tadi. Taeyeon berjalan kearah ruangannya sedangkan Moonbyul, anak itu sedang menggombal dengan beberapa suster cantik dirumah sakit. Dia menggelengkan kepalanya, sifat Moonbyul yang cukup terbuka membuatnya banyak disenangi banyak orang. Dia menarik kursinya lalu duduk dan bersandar. Membuka ponselnya lalu mengecek apakah ada pesan yang sedang ia tunggu disana. Tidak ada. Dia menghembuskan nafas kasar, lalu melempar ponselnya dengan kesal dimeja.

“Orang itu kemana sih? Tidak mengabariku dari kemarin. Padahal seharusnya aku yang marah kepadanya. Ini kenapa terbalik?! Urgh!” Dia masih menggerutu tidak jelas, tapi setelah itu pintu ruangannya diketuk. Ada orang didepan ruangannya dan ingin masuk. Dia mempersilahkan dan mulai kembali merapihkan penampilannya dan memasang wajah ceria.

“Halo, dokter” seorang pria datang dan duduk dihadapan Taeyeon.

“Hai, Minho. Bagaimana kabarmu?” Taeyeon tersenyum ramah. Pria yang bernama lengkap Choi Minho adalah salah-satu pasiennya yang mengidap gangguan Bipolar.

“Tidak baik, dok.” Pria muda itu menjadi murung. Dia menundukan kepalanya.

“Apa yang tidak baik? Ingin membagi cerita kepadaku?” Taeyeon memegang tangan Minho. Dia berusaha meyakinkan, agar Minho bisa menceritakan apa yang tidak membuat dirinya menjadi tidak baik. Dia harus bisa mengambil hati pasien yang memiliki gangguan, agar bisa menganggapnya sebagai teman,  bukan sebagai dokter antar pasien.

“Aku tidak bisa membaginya kepada-mu, dok.” Minho mulai menangis

“Hei, dengar… tidak apa-apa jika kau belum ingin menceritakannya. Tapi ingat, jika kau sudah siap untuk membaginya kepadaku. Aku akan siap mendengarkannya, Minho. Jangan sungkan, kita ‘kan teman.” Taeyeon tersenyum dengan tulus, baginya Minho seperti adiknya sendiri. Jadi dengan kemampuan yang telah ia miliki, dia akan berusaha keras untuk menyembuhkan Minho.

“Ya. Kita adalah teman” perasaan Minho mungkin agak sedikit baik,  karena sekarang dia sedang tertawa terbahak-bahak.

***

“Tiffany!” Nyonya Hwang berlari mengikuti para tim medis, yang sedang membawa anaknya. Dia benar-benar kacau, tadi siang dia mendapati Tiffany yang jatuh terkapar didekat kamar mandi dengan darah yang mengalir dari pergelangan tangannya.

“Anak-ku…” Tiffany sedang ditangani di unit gawat darurat, nyonya Hwang jatuh terduduk dilantai. Dia sedang menangis dengan pilu.

“Umma..” seseorang datang, dan membantu nyonya Hwang untuk bangun. Dia membawa nyonya Hwang untuk duduk dikursi dan memeluknya dengan erat.

“Leo… adikmu..” nyonya Hwang terus menangis dan mengeratkan pelukannya kepada Dia, yang adalah anak laki-lakinya.

“Sudah, Umma.. Tiffany akan baik-baik saja. Dokter bisa menangani-nya” Leo mengusap pundak ibunya yang masih bergetar. Dia juga cemas dengan keadaan adik perempuannya. Tapi dia yakin, Tiffany bisa bangkit dari keterpurukannya.

Untuk kalian yang memiliki sebuah keinginan, perasaan entah benci atau suka, janganlah dipendam. Coba ceritakan kepada yang menurut kamu dapat dipercaya, jangan hanya memendamnya sendiri jika tidak ingin pikiran itu malah jadi boomerang untuk diri kalian.
Jika kalian ingin menolak coba katakan Tidak kepada mereka. Jika kalian menyukai, coba katakan bahwa kalian Suka. Karena hidup bukan berarti kamu harus selalu sejalur.
Dan ingat, bahwa kita hidup sebagai manusia yang beragam, bukan seragam.
jadi, lakukan yang kamu mau. Bukan apa yang mereka mau. Dan tidak musti harus sama.

Ingat, jangan sampai pikiranmu menghantui dirimu. Coba katakan dan lepaskan.

 

TBC

76 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Bagikan:

Tinggalkan sebuah komentar