Phobia Bab 2

Title : Phobia

Maincast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang, Choi Daniel as Park Dong Yul,

Cha Hwa Yeon as Tiffany mother, Moonbyul, Solar. Etc

Author : Eirene Kim

Genre : Drama, Psychological, Misteri

Poster by: @Alkindi & Story Poster Zone

Copyright © 2017 Eirene Kim

Penerbit

(eirenekimackerman.wordpress.com)

(wattpad.com/tncpro)

***

“Tiffany! Ah, Tuhan… apa yang kau lakukan” nyonya Hwang sedang menenangi putrinya yang sedang mengamuk. Tadi pagi Tiffany sudah siuman dari pingsan, dan keadaannya sedikit belum stabil. Tiffany dengan kasar mencabut selang oksigen yang terpasang dihidungnya dan melepaskan jarum infusan dengan kasar, dia berusaha untuk turun dan kabur.

“Leo! Tolong, umma.. Tiffany ingin pergi” nyonya Hwang berteriak kepada anak laki-lakinya, dia berusaha menahan Tiffany agar tidak kabur, tetapi yang ada malah dia yang terpelanting kebelakang, tenaga Tiffany sangat kuat.
Leo berhasil menahan Tiffany, dia memeluknya dengan kuat. Tiffany memberontak dan mencakari tangan Leo yang sedang memeluknya dari belakang.

“Umma… cepat panggil suster dan juga dokter. Aku tidak yakin, akan kuat menahannya sendiri” Leo menyuruh ibunya untuk memanggil tim medis, Leo masih memeluk Tiffany meski tangannya sudah luka oleh cakaran dari tangan Tiffany.
Nyonya Hwang bangkit berdiri dan segera pergi untuk mencari tim medis. Setelah nyonya Hwang pergi, Tiffany menangis dan terus memberontak.

“Leo, lepaskan aku!” Tiffany berteriak keras, dia benar-benar ingin terlepas dari kungkungan Leo.

“Kenapa kau seperti ini, Tiff?” Leo tidak menuruti kemauan adiknya, dia masih berusaha menahan Tiffany.

“Lepaskan aku Leo!!” Tim medis lalu datang dan membantu Leo yang kesulitan untuk menahan Tiffany. Mereka sedang mencoba untuk menaruh Tiffany keranjang dan mengikatnya dengan kain yang dikhususkan untuk pasien yang suka memberontak, dan tidak lama kemudian seorang suster menyuntikan obat penenang untuk Tiffany. Perlahan-lahan kesadaran Tiffany sedikit kabur dan akhirnya tertidur.

“Terimakasih…” nyonya Hwang memberikan rasa terimakasih kepada beberapa tim medis yang keluar dari ruangan Tiffany. Dan menghampiri anaknya yang sedang tertidur, dia mengelus rambutnya dan mencium dahi Tiffany. Dia menangis melihat keadaan Tiffany.

“Apa yang salah Tiffany…”

“Umma, aku pergi keluar sebentar. Mencari minum” Leo beranjak bangun dan pergi dari ruangan Tiffany.

***

“Taeyeon…” seseorang datang dan menghampiri ruangan Taeyeon. Dia duduk dikursi dan berucap kepada dokter muda ini.

“Oh? Charles sunbaenim? Ada apa?” Taeyeon terkejut dengan kedatangan dokter tampan keruangannya. Dia dengan kikuk berbicara kepada dokter Charles.

“Kau mau membantuku?” Dokter Charles berucap lagi. Dokter Charles adalah seorang keturunan Kanada dan Korea. Dia blasteran dan penampilannya sangat keren. Rambut dengan potongan rapih membuatnya seperti seorang superhero dan juga hidungnya yang mancung dan juga tulang pipi yang kuat. Benar-benar laki-laki idaman.

“Taeyeon? Apa kau mendengarku?” Taeyeon dikejutkan dengan jentikan jari dari dokter Charles, astaga dia sedang melamunkan dokter Charles,  yang dengan sangat jelas ada dihadapannya.

“Oh, ya? Kau ingin dibantu apa?” Taeyeon tersadar dan malah menjadi kikuk.

“Aku akan mengambil cuti untuk beberapa waktu. Apa kau bisa menggantikan aku dengan beberapa pasien yang sudah kutangani?”

“Umm.. aku tidak yakin”

Please, Taeyeoni..”

Augh… Okey-okey, aku akan membantu. Itu tidak imut sama sekali, sunbae”

Thankyou… aku akan bilang kepada presdir” dokter Charles pergi dari hadapan Taeyeon dan berjalan dengan terburu. Setelah kepergian dokter Charles, Taeyeon menghembuskan nafasnya.

“Dia tampan sekali… tunangannya sangat beruntung” Taeyeon menjadi cemberut.

***

“Jae Hi.. dimana laporan pasien yang dokter Charles tangani?”

“Di laci nomor tiga, dari atas” perawat sekaligus asisten dokter Charles memberikan instruksi kepada Taeyeon. Taeyeon berjalan lalu membuka laci, dia sedikit terperangah tatkala membuka laci itu dan menemukan setumpuk laporan data pasien yang ditangani oleh dokter Charles.

“Jae Hi, apa kau yakin ini semua data laporan pasien yang ditangani oleh Charles sunbaenim?” Taeyeon memperlihatkan laporan itu kepada Jang Jae Hi. Melihat Taeyeon yang menjadi sedikit sesak nafas karena sebuah laporan membuat Jae Hi tertawa.

“Ya, itu benar. Apa kau sanggup?” Jae Hi membantu Taeyeon untuk membawa laporan itu keruangan Taeyeon.

“Sepertinya, aku harus bekerja sangat ekstra sekarang” Memutar bola matanya dengan malas, dia terus menggerutu.

“Dokter Charles hanya cuti untuk beberapa waktu, Unnie…”

“Kalau saja dia tidak tampan, aku tidak ingin membantunya sama sekali”

“Jadi kau menerima ini karena terpaksa?”

“Umm.. tidak sepenuhnya terpaksa sih..” mereka telah sampai diruangan Taeyeon, lalu menaruh semua laporan itu diatas meja kerjanya.

“Terimakasih, Jae Hi..”

It’s okey, karena dokter Charles sedang cuti. Aku akan menjadi asistenmu selama dokter Charles selesai dari masa cutinya.”

“Kurasa itu tidak perlu, Jae Hi..”

“Kau tidak perlu sungkan. Dokter Charles yang menyuruhku, dokter Kim. Jadi kau tidak bisa membantah” Jae Hi, bangun dan berniat pergi. Namun saat diambang pintu, gadis itu berucap, “Pukul dua nanti, kita akan mengunjungi nona Jung. Aku akan menyiapkan beberapa keperluan. Jadi kau hanya harus bersiap-siap. Aku pamit dulu.”

“Okey, jadi kita mulai dari mana dulu” Taeyeon mulai memilah-milah laporan yang akan dia periksa sebelum mengunjungi para pasien.

***

“Astaga, nona Cho… baru tadi pagi Anda datang kemari. Aku sudah bilang, gigimu tidak mengalami masalah apapun.” Moonbyul sedang geram oleh seorang pengganggu. Dia sangat jengah dengan gadis yang satu ini, pasalnya sekarang gadis yang dipanggil nona Cho ini, datang lebih dari tiga kali dalam sehari.

“Tapi, aku mengalami sakit disebelah gigi grahamku, dok. Bisa kau melihatnya untuk-ku?”

“Aku akan memeriksamu, tapi kau harus berjanji. Setelah ini jangan datang lagi kemari, jika kau tidak mengalami sakit gigi yang parah.”

“Aku tak yakin”

Moonbyul mulai menyiapkan beberapa peralatan sebelum benar-benar melihat gigi perempuan manis ini. Nona Cho masih muda, umurnya kira-kita masih delapan belas tahun, tapi kerjaannya hanya mengunjungi Moonbyul dengan alasan giginya bermasalah. Moonbyul bukannya tidak ingin menjadi dokter yang tidak bertanggung jawab, tapi jika seperti ini terus maka sama saja dia membuang waktu hanya untuk memeriksa gadis ini. Dan bukankah, seharusnya gadis seusianya sedang fokus belajar untuk mempersiapkan ujian masuk ke universitas, tapi kenapa dia malah lebih rajin kesini ketimbang pergi ke perpustakan untuk membaca. Moonbyul tidak habis pikir dengan gadis ini, jadilah dia dengan wajah cemberutnya memeriksa gigi gadis ini.

“Gigimu benar-benar bagus dan tidak mengalami masalah apapun, nona Cho.”

“Benar, ‘kah? Tapi kenapa ketika aku makan, itu terasa tidak nyaman untuk mengunyah”

“Cabut saja giginya semua, Moonbyuli. Mungkin itu bisa membuatnya makan dengan nyaman.” Seseorang datang dan berdiri disamping Moonbyul.

“Solar?”

“Hai, sayang…” Solar mengecup pipi Moonbyul dan memberikan senyum paling manis dan beralih menatap nona Cho, dia sedikit menaiki alis kirinya dan berucap, “Apa kau menginginkan, dokter Moon untuk mencabut gigimu? Semua?”
Nona Cho menjadi tidak percaya diri, dia hanya menggelengkan kepalanya.

“Jadi apa kau bisa pergi dari sini, dan jangan datang kembali jika gigimu tidak mengalami sesuatu yang busuk” Solar bersedekap dihadapan gadis itu dengan malas. Nona Cho bangun dan bangkit berdiri, gadis itu mengambil tasnya lalu melangkah pergi keluar.

Thankyoubabe..” Moonbyul memeluk Solar dan mengecup pipinya.

“Jangan percaya diri… aku kesini hanya ingin mengambil sesuatu” Solar mendorong tubuh Moonbyul dan mencari sesuatu di rak buku Moonbyul disamping meja kerjanya.

“Bilang saja kau merindukan ku, Yong Sunie..”

“Dalam mimpimu…”

“Jangan galak-galak, bagaimana nanti kalau kau jatuh hati kepadaku, Solar?”

“…tidak akan”

***

“Halo nona Jung, bagaimana perasaan Anda?”

“Aku sangat baik. Dimana dokter mengesalkan dan jelek itu?”

“Dia sedang melakukan sesuatu, jadi aku yang menggantikannya untuk sementara waktu”

“Baguslah, apakah aku bisa pergi dari tempat ini?”

“Setelah pola makanmu membaik, kau bisa pergi dari tempat ini.”

“Aku sudah makan dengan sangat baik, jadi bisakah kau mengijinkan aku untuk pergi dari sini?”

No, suster Jang bilang kepadaku bahwa kemarin dan seharian kau tidak menyentuh makanmu sama sekali. Bahkan suster Jang terpaksa memberimu makan melalui lobang hidung, apa itu yang disebut makan dengan baik, nona Jung?”

“Sial, jangan percaya ucapan suster jalang itu, dok. Dia hanya mengada-ngada.”

“Okey, jika benar yang kau katakan tentang suster Jang yang membicarakan omong kosong. Lalu bagaimana bisa semua makanan ini berada didalam lemari bawah, nona Jung?” Taeyeon membuka lemari bawah khusus keperluan para pasiennya untuk menyimpan sesuatu. Dia dengan tatapan menusuk, memperlihatkan tumpukan makanan yang belum di jamah sama sekali oleh seorang pasien yang mengidap gangguan pola makan.
Nona Jung Soojung atau yang kerap dipanggil Krystal adalah salah satu pasien dirumah sakit ini. Pasca kepergian kakak kembarnya yang meninggal karena kecelakaan membuat dia menjadi pemurung dan juga tidak memiliki gairah untuk bertahan hidup. Menurut laporan yang dibaca oleh Taeyeon mengenai kasus yang dialami oleh Krystal Jung, dia dulu adalah seorang mahasiswa dengan nilai paling tertinggi dan selalu mendapatkan juara. Bahkan tahun ini seharusnya dia mendapatkan sebuah penghargaan dari hasil kerja kerasnya dalam belajar. Setelah kejadian itu, dia mulai malas untuk belajar dan juga sering melamun dirumah dan dimanapun dia berada. Bahkan ibunya menemukan semua makanan yang seharusnya dikonsumsi malah tertumpuk dihalaman belakang rumah mereka, dan menemukan makanan itu sudah membusuk dan dipenuhi oleh belatung. Mulanya ibunya hanya menganggap itu hal biasa, namun saat dihari natal dan mereka sekeluarga sedang mengadakan pesta, Krystal dengan nekat berdiri disebuah balkon yang menghadap pada sebuah tanah yang apabila ketika Ia meloncat, itu cukup untuk memecahkan kepalanya.
Dan waktu itu memang Krystal benar-benar meloncat dari sana, untungnya hanya kaki dan tangan yang mengalami sedikit patah.

“Kakak-ku yang meminta makanan itu, dokter. Dia bilang, bahwa dia lapar. Jadi aku hanya ingin memberi sedikit makanan untuknya. Kakak-ku kelaparan, dok.”

“Dengarkan aku, nona Jung. Apa kakakmu ada disini?” Taeyeon menggenggam tangan Krystal dan menatap matanya dengan intens. Krystal terpaku dan sedikit mengangkat bahunya sambil menganggukan kepalanya dengan pelan.

“Dimana dia?” Krystal tidak menjawab, melainkan dia hanya mengarahkan arah pandangnya kepada sudut kamar lain. Matanya memerah dan sedikit menahan sesuatu, genggamannya kepada Taeyeon semakin kuat. Perlahan-lahan pertahanannya runtuh, dan dia menunduk lalu menangis dengan sangat tersedu. Menyenderkan kepalanya ke dada Taeyeon, dia terus menangis sambil menggelengkan kepala dengan lemah.

“Menangislah jika itu membuatmu merasa baik, nona Jung.” Tangannya terulur untuk mengusap pundak wanita rapuh itu.

“Dia marah kepadaku, dok. Seharusnya kami mati bersama saat itu.” Krystal semakin keras menangis dan terus memukul dadanya sendiri.

“Jangan berucap seperti itu, nona Jung. Anda akan mati jika waktunya sudah ditetapkan oleh Tuhan. Dan itu sudah menjadi takdir kakakmu untuk kembali kepada-Nya. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, kau harus kuat dan bangkit berdiri.”

“Aku tidak sanggup untuk bangkit, dokter”

“Jika kau merasa bangkit adalah sesuatu yang berat, bukankah jatuh akan membuatmu merasa lebih sakit? Kau tidak sayang kedua orangtuamu? Mereka mengkhawatirkan keadaanmu, nona Jung. Kau adalah harapan mereka satu-satunya untuk hari tua mereka. Apa kau tega melihat mereka bersedih dengan dirimu yang tidak menjaga kesehatan?” Hanya tangis yang mendalam yang terdengar diruangan ini. Krystal melampiaskan semua emosi terpendamnya melalui pecah tangis, dan Taeyeon hanya membantu untuk menenangkannya.

Hampir kurang lebih satu jam, Krystal tertidur dipelukan Taeyeon, dan merasa dirinya sakit karena menahan beban tubuh kurus milik Krystal, Taeyeon mencoba untuk merebahkan kembali Krystal keranjang dan tidak lupa dibantu oleh Jang Jae Hi. Krystal menggeliat dalam tidurnya, dan Taeyeon perlahan turun dari kasur ranjang dan merapihkan stelannya yang sedikit berantakan.

“Kurasa kau perlu tissue ini, unnie. Hidungmu memerah” Jae Hi terkekeh mengejek Taeyeon yang ikut menangis karena kisah nona Jung. Taeyeon hanya cemberut dan menerima beberapa lembar tissue lalu mengusap hidungnya yang sedikit berair. Seharusnya dia mendengarkan kisah nona Jung, lalu mencermatinya, justeru malah dia ikut terbawa suasana. Oh lihatlah, dokter kita memiliki hati sedikit baper atau dalam bahasa lain, terlalu membawa perasaannya.

“Berapa pasien lagi yang harus kudatangi, nona Jang?”

“Menurut catatanku, untuk hari ini kau punya satu pasien lagi. Dia baru datang kemarin malam, dok.”

“Oh, ya? Beri aku catatan kronologisnya sebentar.” Taeyeon membaca beberapa catatan yang telah dibuat oleh Jang Jae Hi dan membacanya sambil mengangguk, tanda bahwa dia paham dengan catatan itu.

“Cantik bukan?”

“Apanya yang cantik?”

“Pasien yang satu ini…”

“Jangan ngawur, bersikap profesional. Tapi lumayanlah..”

Heis.. maunya apasih?”

***

Nyonya Hwang sedang duduk sambil berusaha untuk tetap terjaga, terlihat sangat jelas dari wajahnya, wanita itu sangat lelah dan kurang tidur. Dia menjaga anaknya dengan telaten dan tidak meninggalkannya untuk sedikitpun.
Ketukan pintu terdengar dari luar ruangan, dan dengan pelan nyonya Hwang bangun dan melihat siapa yang berada didepan pintu ruangan.

“Selamat siang, nyonya. Bisa saya diperbolehkan masuk untuk melihat keadaan nona Hwang sebentar?” Seorang dokter dan juga perawat datang lalu meminta izin kepada seorang wanita untuk melihat dan juga mengecheck keadaan pasien yang sementara sedang dirawat.

“Oh, tentu dok. Silahkan masuk, anak-ku baru saja tidur setelah tadi mengamuk” dokter itu tersenyum kepada nyonya Hwang lalu berjalan dan menghampiri Tiffany.

“Apa benar nona Hwang tidak pernah keluar dari kamar hampir lebih satu tahun? Bagaimana cara dia makan, nyonya?” Dokter sedang memeriksa keadaan Tiffany dengan memegang pergelangan tangannya dan menghitung denyut nadinya.

“Iya itu benar, dok. Soal makan, dia hanya ingin makanan itu ditaruh didepan kamarnya. Barulah setelah kami pergi menaruh makanan, dia mau makan.”

“Kenapa baru dibawa sekarang? Permasalahan ini sudah sangat lama terjadi, hampir setahun. Nona Jang tolong siapkan obat penenang. Kupikir nona Hwang sebentar lagi akan terbangun.”

“Karena kupikir Tiffany mungkin sedang tidak ingin diganggu karena lelah dengan pekerjaan, jadi aku tidak mempersalahkan hal itu.”

“Ketika seseorang sudah tidak ingin diajak bicara dan terus mengurung diri selama berhari-hari, kalian harus segera berkonsultasi, nyonya. Mungkin saja anak Anda sedang mengalami sesuatu yang membuatnya depresi hingga dia lebih memilih mengurung diri dan enggan bertemu dengan orang lain, bahkan keluarganya sendiri. Dan seharusnya kau seorang Ibu lebih memahami kondisi putrimu, nyonya. Apa nona Hwang tidak pernah bercerita dengan Anda tentang masalah Cinta dan lain sebagainya?”

“Dia hanya akan bercerita soal pekerjaannya. Dan dia tidak pernah terbuka soal perasaan. Seharusnya kemarin dia bertunangan dengan seseorang, tapi batal karena hal ini.” Menghela nafas panjang lalu menunduk lemah.
Perlahan-lahan mata Tiffany terbuka lemah, dan dia memandang area sekitar, terkejut ketika ada oranglain dikamarnya. Dia berusaha bangun tetapi terhalang oleh kain yang mengikat tubuhnya, dia berteriak keras dengan penuh perasaan takut.

“Tiffany sayang, tidak perlu takut nak..dokter Kim yang akan merawatmu, sayang… ” nyonya Hwang bangun dan memeluk anaknya, dia menahan Tiffany yang ingin lepas dari ikatan kain.

“Nona Hwang, calm down.. tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan secara perlahan. Tidak perlu takut, aku temanmu bukan dokter…”

Go to the hell, bit..!” Nyonya Hwang langsung menangkupkan tangannya ke mulut Tiffany dan menutupnya dengan rapat. Tiffany terus meronta dan tidak mau dokter Kim ada disini.

“Nona Hwang, apa kau ingin disuntik lagi?” Mendengar nada ancaman perihal sesuatu yang akan membuatnya kembali tertidur, Tiffany langsung menggeleng dengan keras. Dia tidak ingin tubuhnya lemas karena obat itu.

“Kau bisa menjadi anak yang penurut untuk hari ini?” Tiffany terdiam dan mengangguk dengan tidak yakin.

“Okey, jika kau bisa tenang. Aku tidak akan menyuntikmu dan kau bisa dilepas dari kain yang melilit ditubuhmu.. tapi dengan satu syarat. Jangan kabur dan diam ditempat tidur. Apa kau paham?”

 

 

TBC

134 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Bagikan:

Tinggalkan sebuah komentar